PENCIPTAAN PESANTRENPRENEUR DALAM PRESPEKTIF KEWIRAUSAHAAN DALAM KEMANDIRIAN EKONOMI DI LINGKUNGAN PESANTREN MELALUI PROGRAM “ONE PESANTREN ONE PRODUCT (OPOP)” DI JAWA BARAT

 

PENCIPTAAN  PESANTRENPRENEUR DALAM PRESPEKTIF  KEWIRAUSAHAAN DALAM KEMANDIRIAN EKONOMI DI LINGKUNGAN PESANTREN MELALUI PROGRAM “ONE PESANTREN ONE PRODUCT (OPOP)” DI JAWA BARAT

OLEH :

ACHMAD ROSYAD, SP, MM

(KANGAHRO.COM)

WIDYAISWARA MUDA DINAS KOPERASI DAN USAHA KECIL

PROVINSI JAWA BARAT

 

 


 

 

I.                   LATAR BELAKANG

Pesantren atau disebut juga Pondok Pesantren biasa dikenal sebagai tempat atau lembaga keagamaan yang memberikan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama Islam. Transformasi pesantren tradisional yang mengutamakan penyebaran ilmu agama Islam menjadi pesantren yang lebih modern yang memusatkan pada keseimbangan antara pengetahuan agama dan sains merupakan dasar bahwa pesantren dipercaya memiliki andil dan turut bertanggung jawab dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat termasuk bidang ekonomi. Pengembangan ekonomi umat yang berbasis pesantren ini contohnya adalah pesantren yang memiliki bisnis sehingga beban biaya operasional pesantren bisa terbantu.

Namun, peran baru yang diemban pesantren untuk memberdayakan ekonomi umat sifatnya masih sporadis, kurang terkordinasi, tidak institusional dan belum disertai dengan visi dan misi yang jelas, serta belum didukung oleh sumber keilmuan yang relevan. Peran ini memang tidak mudah bagi pesantren yang selama ini lebih berkonsentrasi pada bidang keagamaan dari pada bidang social kemasyarakatan, terutama dalam bidang ekonomi. Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh pesantren, untuk merubah pola dakwah yang menitikberatkan cara bil lisan menjadi pola dakwah bil hal di tengah-tengah masyarakat yang semakin kompleks.

Berdasarkan data Kementerian Agama pada tahun 2016, Jawa Barat memiliki 8.264 pesantren atau sekitar 31,8% pesantren dari total pesantren di Indonesia. Tidak semua pesantren terdaftar secara resmi yang dibuktikan dengan Nomor Standar Pondok Pesantren (NSPP). Hingga tahun 2018 berdasarkan Tim  Survey Pesantren Jawa Barat tahun 2018, ada sekitar 12.000 pesantren di Jawa Barat dan sekitar 24% merupakan pesantren atau kopontren yang memiliki bisnis atau produk. Berbagai instansi pemerintah maupun swasta telah melaksanakan program pemberdayaan ekonomi di lingkungan pesantren, tetapi hasilnya tidak berkelanjutan. Hasil evaluasi menunjukan bahwa penekanan pada pemberian modal yang bersifat hibah bukan merupakan cara efektif untuk memandirikan pesantren. Oleh karena itu, perlu adanya pemberdayaan ekonomi pesantren yang dalam jangka panjang masih bisa berjalan dan berdampak pada pemerataan ekonomi secara nasional. Hal pertama yang dilakukan adalah penyeleksian pesantren-pesantren yang memiliki kapabilitas dan dinilai berpotensi untuk dilibatkan dalam proses pemberdayaan ekonomi. Selanjutnya pesantren yang lolos akan mengikuti pelatihan dan pendampingan. Harapan nya pesantren-pesantren dari setiap kabupaten atau kota mampu menciptakan produk untuk menopang perekonomian pesantren dan lebih jauh lagi, bagi pesantren yang telah melakukan pemberdayaan ekonomi bisa memberdayakan masyarakat sekitar pesantren sehingga mampu berkontribusi secara sosial kepada umat.

 

II.                DASAR PEMIKIRAN PESANTRENPREUNER :

Pesantren adalah sebuah kekuatan besar yang mempunyai sumberdaya manusia berlimpah untuk digerakkan menjadi penggerak di masyarakat. Selama ini, pesantren telah meneguhkan diri sebagai pencetak SDM unggul dengan model pendidikannya yang special dan pesantren telah meneguhkan diri sebagai pencetak SDM unggul dengan model pendidikannya yang special.  Ke depan pesantren bisa menjadi jantung kekuatan ekonomi umat, menjadi salah satu titik berangkat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi,
Berangkat dari Peta Kekuatan Pesantren, maka Kita harus yakin, Pesantren merupakan institusi yang punya rekam jejak panjang dalam mendidik umat. Dan entitas kuat yang tak hanya bisa menjadi pilar pendidikan umat,  serta berpotensi menggerakkan ekonomi umat.  AKTOR kedua dalam tiga pilar  OPOP  (One Pesantren One Product)  adalah Pesantren. Karenanya disebut Pesantrenpreneur, yang berasal dari dua kata yaitu Pesantren dan Entrepreneur.  Pesantren merupakan lembaga yang berbasis masyarakat yang menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, menyemaikan Ahlak mulia serta memegang teguh ajaran islam rahmatan lil alamin. Sedangkan Entrepreneur adalah kemampuan mengelola usaha untuk mendapatkan keuntungan.  Pesantrenpreneur dalam sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyakat berbasis pondok pesantren. Aktor utama dalam pilar kedua adalah Koperasi Pondok Pesantren. yang didirikan di lingkungan Pondok Pesantren yang bertujuan   menunjang seluruh kebutuhan warga pondok pesantren dan masyarakat sekitar nya dengan berlandaskan prinsip syariah dan berazazkan kekeluargaan.

III.             PESANTRENPENEUR DAN KEMANDIRIAN EKONOMI

Melahirkan insan-insan pesantren dan memberdayakan potensi yang ada di lingkungan pesantren menjadi motiasi awal dari lahirnya sebuah program unggulan Gubernur Jawa Barat dengan One Pesantren One Product (OPOP) di Jawa Barat sebagai manifestasi awal pemikiran pentingnya dibuat sebuah konsep kemandirian ekonomi yang diciptakan di pesantren yang notabene sebagai Lembaga Pendidikan Agama yang bisa pula melahirkan wirausaha inovatif dengan produk unggulannya yang akan menjadi penciri khsus dari pesantrenpreuner.

One Pesantren One Product  (OPOP) adalah suatu kegiatan dalam menciptakan, mengembangkan, dan memasarkan produk  dan jasa yang dihasilkan oleh setiap usaha pesantren di Provinsi Jawa Barat dengan tujuan menciptakan kemandirian pesantren dalam mengembangkan produk unggulannya menjadi usaha produktif yang akan menghidupi pesantren dan memberikan nilai tambah bagi pesantren dalam menciptakan sebuah  sebuah ekosistem bisnis yang bersinergi dan berjejaring dalam proses yang inovatif antara pemerintah dengan offtaker sebagai pendukung bisnisnya. Offtaker adalah pembeli produk unggulan pesantren sebagai konsumen terakhir atau sebagai reseller produk unggulan pesantren yang telah dimatchingkan dengan pasar yang terstruktur dan berkelanjutan sehingga produk pesantren sudah memiliki kejelasan dan jaminan pasar yang telah disiapkan.

Pesantrenpreneur  adalah sebuah aktivitas dilakukan untuk mendorong kemandirian ekonomi di lingkungan pesantren yang bertujuan menggalakkan program kewirausahaan di kalangan pesantren dan santri.   Sejumlah pesantren ada yang telah berhasil menjalankan kemandirian usaha dan sebagian masih harus merintis proses perjalanan dalam menciptakan sebuah usaha di pesantren.  Pesantrenpreneur ini dijalankan secara terintegrasi, mulai pelatihan, pendampingan, permodalan, hingga pemasaran.  Dimulai dari implementasi penyebaran Virus kewirausahaan bisa menyebar di kalangan santri. Sekaligus para santri bisa menyerap keteladanan dalam kisah-kisah perjuangan seperti cerita  jatuh bangun nya sebuah usaha hingga sukses membangun bisnis seperti saat ini, termasuk menjadikan sebuah perspektif baru tentang kondisi ekonomi saat ini pun dipaparkan ke para santri.  

Program Pelatihan untuk Pantrenpreneur /Koppontren  yang diharapkan menjadi treatment awal penmerdayaan ekonomi umat diawali dengan Penataan di Bidang Kelembagaan, Bidang Produksi dan Bisnis Koperasinya. Bagi Koppontren yang sudah memiliki produk terus diberikan pendampingan untuk produk yang dihasilkan.  Dan bagi Koppontren yang produknya sudah banyak diterima pasar (eksist),  maka selanjutnya kita perluas jaringan pemasaran baik offline maupun online. Bentuk layanan pelatihan dan fasilitasi produk pesantren dapat berupa pendaftaran merk, halal,  sni,  kemasan dan sebagainya.                                   Di Bidang Pemasaran dibuat jaringan produk pesantren,  market offline dan online yang siap menampung produk pesantren harus segera diwujudkan.  Di Bidang SDM Koppontren harus segera membenahi pola rekrutmen, pembinaan,  dan apresiasi SDM Koperasi.  Sudah waktunya SDM Koppontren naik kelas, lebih profesional.  Untuk itu berbagai modul pelatihan perlu disusun dan sertifikasi profesi pengelola koperasi perlu diterapkan,  agar pengurus,  pengawas dan karyawan Koppontren terstandar.  Di Bidang Pembiayaan, modal Koppontren seringkali menjadi hal mendasar yang dijadikan alasan koperasi tidak berkembang.  Untuk itu perlu diberikan pendampingan agar terbuka akses permodalan bagi Koppontren. Berbagai skema tersedia dan bisa diakses oleh Koppontren,  kebiasaan koperasi yang mengandalkan hibah perlu dirubah. Koppontren harus kreatif dan inovatif dalam menggali sumber sumber permodalan yang baru.

Pesantrenpreneur Tebarkan Virus Wirausaha di Pesantren

Upaya menebar virus dan semangat berwirausaha terus digaungkan. Tidak hanya pemerintah, namun sejumlah penggiat UKM melalui program Pesantrenpreneur juga turut mendorong tumbuhnya jiwa enterpreneurship di Pondok Pesantren.

Program yang digagas merupakan kegiatan berbagi yang diperuntukkan bagi santri-santriwati di pesantren-pesantren dalam hal kewirausahaan.  Program Pesantrenpreneur ini di gelar di Pesantren.  Kegiatan ini melalui pelatihan dan pemagangan dengan beragam materi seperti sharing, praktek pemanfaatan media sosial, publik speaking, pembuatan produk yang baik. Anak-anak pesantren yang dianggap belajarnya hanya tentang akhirat saja dan tidak mau tahu tentang dunia, kita edukasi tentang enterpreneurship. Sebab di luar pondok pesantren banyak sekali anak-anak yang mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang enterpreneurship.

Program Pesantrenpreneur ini bisa diakses seluruh pesantren, dan kedepannya kedepannya program ini dapat berlanjut dalam bentuk monitoring, bimbingan seperti kisah perjalanan Rasullah dalam berwirausaha, motivasi berwirausaha, praktek pemanfaatan media sosial, publik speaking, pembuatan produk yang baik. Semoga menjadi sebuah Inovasi Perubahan dalam kemandirian secara ekonomi di Pesantren. Aaami Yaa Rabbal Alamiin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages