Langsung ke konten utama

"MOTIVASI BELAJAR WIRAUSAHA TIDAK SELALU BERBANDING LURUS DENGAN SEMANGAT MENCARI BANTUAN MODAL"



"MOTIVASI BELAJAR WIRAUSAHA TIDAK SELALU BERBANDING LURUS DENGAN SEMANGAT MENCARI BANTUAN MODAL"
Topik tulisan kali ini Saya lebih menekankan pada sebuah pemikiran dengan melihat fenomena-fenomena yang sedang dan kian terjadi di masyarakat.  Khususnya masyarakat wirausaha yang notabene selalu menyikapi permasalahan atau kalau kita melontarkan pertanyaan kiranya masalah apa yang biasanya banyak dihadapi oleh para wirausaha, rata-rata jawabannya serempak dan hampir sama yaitu masalah MODAL.  Terutama masalah modal inilah atau masalah keuangan untuk mendukung usahanya terlebih untuk memodali biaya produksi, dari mulai bahan baku, bahan pendukung dan operasional usaha yang selalu berulang-ulang menjadi sebuah siklus bisnis kita dalam roda usaha bagi para pelaku usahanya.
Khusus untuk mengembangkan SDM pengusaha itu sendiri, tentunya harus terus diupdate pengetahuan dan selalu diperbaharui melalui proses pembelajaran melalui pelatihan-pelatihan,seminar,  training dan berbagai kesempatan bimbingan teknis untuk mendukung teknis produksi, pemasaran maupun pengembangan jaringan usaha.  Semua tergantung dari motivasi kita para pelaku usaha untuk selalu mau menambah pengetahuan dengan mengikuti proses peningakatan kapasitas wirausaha sekaligus mencari berbagai peluang alternatif untuk mendukung usaha melalui akses-akses yang diperoleh dari hasil pempebelajaran. 
Dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk pengembangan diri seorang wirausaha, dibutuhkan motivasi dan semangat belajar yang tinggi untuk lebih memantapkan diri dan siap menjalani usaha dengan dibarengi pengetahuan yang memadai untuk memberikan kontribusi positif pada sektor SDM pelaku usaha sebagai owner dan pengelola.  Tidak berlebihan bila kita  terus harus saling menyemangati untuk terus menambah pengetahuan bisnis dalam mengembangkan usaha, terutama dalam merintis dan membangun usaha.
Tapi terkadang semangat itu terkalahkan dengan adanya dilema permasalahan dan kendala yang sedang melanda diri kita, kususnya masalah modal untuk membiayai usaha kita.  Bahkan peluang dan kesempatan untuk akses modal itulah yang kadangkala selalu kita cari di berbagai kesempatan, baik melalui momen pelatihan, seminar wirausaha, maupun dalam berinteraksi dalam jaringan usaha.  Kita tak pernah berhenti mencari terobosan-terobosan dan akses alternatif untuk menemukan peluang itu dalam setiap kesempatan.
Kalaupun itu ada, berharap yang berupa bantuan gratis (cuma-cuma), non kredit dan berupa hibah bantuan dari pemerintah yang memang kuantitasnya saat ini sangat begitu terbatas.  Jadi kalau ada bantuan semacam itu, semua yang memang sedang membutuhkan sangat antusias dan semangat untuk dapat mengaksesnya dengan antusias dan penuh semangat.
Berbeda dengan pada saat kita akan memperoleh akses pengetahuan untuk membekali bisnis kita dalam mendapatkan pelatihan-pelatihan atau kursus keterampilan, malah kita tidak begitu semangat dan mempedulikannya.  Semuan biasanya ditanggapi dengan biasa-biasa serta cukup mengikutinya sebagai aktivitas tambahan untuk mendukung usaha.  Tetapi tidak sesederhana itu, malah kita disini lebih dihadapkan pada dua pilihan, mau lebih membesarkan diri dengan ilmu dan keterampilan sehingga usaha kita lebih kuat dan maju, atau mencari akses bantuan modal kesana-kemari mengharapkan belas kasihan dukungan pihak donor maupun pemerintah yang akan membantu membiayai usaha kita? 
Perlu disikapi dengan bijak dan logika yang sehat untuk dapat mensinergikan dua kepentingan itu, di sisi lain kita perlu membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan teknis sebagai modal dasar dari operasionalisasi usaha kita, di sisi lain kita mebutuhkan akses pembiayaan yang tidak membebani kita dengan hutang atau pinjaman yang memberatkan.  Untuk itu, ada baiknya kita lebih menyiapkan mental kita untuk sebuah pemikiran yang berimbang dalam menyikapi setiap pemasalahan melalui sistem  skala prioritas yang dapat diterapkan pada bisnis kita. 

Untuk mendapatkan akses permodalan juga itu penting, sebab kita tidak bisa beroperasi suatu usaha tanpa faktor keuangan yang akan membiayai kebutuhan proses produksi dan pemasarannya, dan kita lebih jeli untuk memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada.
Tidak semua peluang itu dapat menjadi jalan yang akan kita ambil, tapi  mungkin kesempatan itu datang bukan untuk kita.  Kalaupun memang kesempatan itu benar berpihak kepada kita, pelluang mendapatkan semua itu tidak akan lari kemana bila memang itu kita yakini sebagai jalan dan rizki kita.
Itulah seputar kecenderungan, kenapa kita lebih terobsesi untuk mendapatkan peluang bantuan-bantuan yang sifatnya gratisan, daripada harus berjuang mencari akses kredit pembiayaan yang merupakan pembelajaran berharga dalam pengelolaan keuangan yang sifatnya memutarkan permodalan dalam usaha.  Sungguh disayangkan kalau dulu sewaktu kita bersemangat ingin menjadi wirausaha yang hanya disikapi dengan setengah hati hanya sekedar untuk mendapatkan ilmunya untuk implementasi lebih lanjut dalam proses berbisnis, kalah semangatnya dengan sebuah keadaan pada waktu kita mendengar ada bantuan modal gratisan yang peluangnya cukup diperhitungkan dengan banyak peminat dan pihak-pihak lain yang membutuhkannya.  Dengan peluang kans yang begitu kecil, kita malah mengabaikan kepentingan lain yang lebih urgen untuk memanage usaha lebih baik kedepan, rasanya hanya menjadi sebuah kesia-siaan.
Yang penting yang harus difikirkan, saat ini bagaimana kita dapat mampu menjalankan usaha ini agar lebih profesional dan menghasilkan sesuatu yang inovatif sehingga menjadi sebuah keunggulan yang tidak dapat orang lain untuk mudah menirunya.  Pentingkan peningkatan kapasitas diri sebagai seorang wirausaha yang mampu menjadikan dirinya menjadi prestatif dalam setiap kesempatan di dunia bisnis yang tengah dijalaninya.

Selamat merenungkan dan lebih bijak dalam memilah serta memilih prioritas kesempatan yang harus terlebih dahulu dilakukan untuk memiliki kapasitas yang unggul dan berdaya saing di era perdagangan bebas saat ini.
Selamat berjuang menunjukkan performance bisnis yang lebih memiliki kehandalan dan kemandirian.
Semoga bermanfaat
Penulis :
KANG AHRO
Trainer Kewirausahaan Jawa Barat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MINDSET KEWIRAUSAHAAN

  MINDSET KEWIRAUSAHAAN ... Oleh : Achmad Rosyad , SP, MM (kangahro.com)   “Kewirausahaan itu adalah sebuah Mindset” Kewirausahaan itu bukanlah sebuah status ataupun pekerjaan yang dilakukan sehari-hari, akan tetapi, adalah sebuah mindset . Itulah kenapa disebut dengan entrepreneurial mindset. Pola pikir ( mindset ) adalah cara memwirausaha ng terhadap sesuatu yang tertangkap oleh indra dan menghasilkan sikap yang terungkap dalam perilaku dan menghasilkan 'nasib'. Oleh karena itu, seringkali ditekankan kepada sikap mental seseorang dengan menjadi wirausaha. Atau bisa juga diartikan semacam filter diri sendiri untuk menafsirkan apa yang dilihat dan dialami. Pola pikir manusia bisa diubah, dari pola pikir yang negatif ke positif, pecundang ke pemenang, pekerja menjadi wirausaha. Pola pikir seorang wirausaha itu adalah pola pikir yang produktif, kreatif, inovatif karena pola pikir seperti inilah yang dibutuhkan oleh semua wirausaha untuk menjalankan suatu

Memelihara dan Meningkatkan Etos Kerja

Membangun,   Memelihara   dan Meningkatkan                                       ETHOS KERJA “Etos kerja dapat di artikan sebagai pandangan bagaimana melakukan kegiatan yang bertujuan mendapatkan hasil atau mencapai kesuksesan” Etos kerja sangat di perlukan oleh kita sebagai insan yang hidup di dunia ini yang   hanya menyediakan dua pilihan antara Mencintai pekerjaan atau Mengeluh setiap hari . Jika kita tidak bisa mencintai pekerjan , maka kita hanya akan memperoleh “5 – ng” : ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, ngeyel . Dalam urusan etos kerja, bangsa indonesia sejak dulu di kenal memiliki etos kerja yang kurang baik, sampai pada jaman pendudukan Belanda mereka menyebut kita dengan sebutan yang mengejek, in lander pemalas. Begitupun selama perjalanan bangsa ini salah satu faktor yang menyebabkan krisis multidimensi Indonesia sejak tahun 1997 adalah merajalelanya etos kerja yang buruk . Di bidang ekonomi, masyarakat lebih mengutamakan ekonomi rente daripada ek

AYO MEMBANGUN DAN MEMELIHARA JARINGAN USAHA KALAU MAU EKSIS BERBISNIS

Untuk mempertahankan bisnis, salah satu strategi yang harus dibangun adalah dengan mengembangkan/memperkuat jaringan (networking) usaha.  Dimana kita harus dapat bersinergi, berkolaborasi dan saling menjalin kemitraan dengan usaha lain, baik yang sejenis maupun usaha yang berbeda dengan tujuan untuk memperbesar akses dan penting bagi peningkatan kualitas layanan dan produktivitas usaha dengan berbagai kemungkinan yang dapat dijalankan sekaligus dikerjasamakan. Jaringan usaha yang harus dibangun adalah memiliki pengertian sebuah jalinan komunikasi dan kerjasama antar lembaga ataupun individu yang berorientasi pada profit untuk  mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dimana jaringan usaha memiliki esensi dalam kaidah-kaidah yang akan menghubungkan simpul-simpul usaha dari yang kita miliki yang akan dikerjasamakan dengan pihak lain, diantaranya bagaimana kualitas Kepemimpinan  yang akan melakukan kerjasama yang akan dibangun, tentunya harus memiliki sikap dan keputusan yang dapat dipe